WARISAN, SEPEREMPAT TIONGHOA DALAM TUBUHKU
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Madre
Judul Resensi : Warisan, Seperempat Tionghoa dalam Tubuhku
Penulis : Dewi Lestari Simangunsong “DEE”
Jenis : Fiksi
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan Tahun : Cetakan ketiga, juni 2012
Tebal Buku : xiv + 162 halaman
Harga Buku : Rp. 47.000,-
Dewi lestari yang dikenal dengan nama pena Dee lahir di kota kembang Bandung pada tanggal 20 januari 1976. Dewi sebagai alumnus dari SMA Negeri 2 Bandung dan lulusan Universitas Parahyangan, jurusan Hubungan Internasional. Ia adalah anak ke empat dari lima bersaudara yang berkecimpung dalam dunia nyanyi dan penulisan. Sejak kecil dewi memang sudah akrap dengan musik. Ayahnya walaupun sebagaai TNI, tetapi gemar bermain piano, sementara adiknya bergabung dengan grup musik mocca, sebagai vokalis. Dewi terkenal sebagai seorang novelis, sejak ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul Supernova yang sangat populer pada tahun 2001.
Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar Internasional dengan menggaet Harry Aveling, ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova dua berjudul "Akar" pada 16 Oktober 2002. Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu Retroverso yang merupakan paduan fiksi dan musik. Karya-karya fiksi Dee lainnya seperti Filosofi Kopi 2006 dan Madre yang besisikan kumpulan dari karya-karya fiksi dan prosa pendek.
Medre ini adalah karya Dee yang ke tujuh dan bukan terdiri dari satu cerita fiksi saja, namun terdiri dari 13 fiksi dan prosa-prosa pendek. Di dalam buku itu pembaca disuguhkan berbagai tema yang bermacam-macam. Mulai dari perjuangan sebuah roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Dari beberapa cerita didalam buku itu, madre mampu menarik hati saya untuk segera membaca dan meresensi cerita itu. Dan melalui Madre ini secara sadar maupun tidak, Dee telah mengungkapkan rahasia dapur di balik pembuatan sebuah produk roti. Madre juga menekankan pentingnya kreatifitas dan kerjasama, sebab itulah yang membuat sebuah bangsa dikenal lebih hormat dan lebih lama.
Sinopsis
Tansen adalah seorang pemuda yang tinggal sebatang kara di pulau dewata Bali. Ia ditinggal mati ibunya sejak kecil, sementara ayahnya sibuk dengan segala aktivitasnya dan tidak memperdulukan Tan lagi, Tan dibebaskan berbuat sesuka hatinya oleh ayahnya. Tan sangat akrap dengan segala hal yang berbaukan pantai, mulai dari selancar, berenang, surfing, menato tubuhnya sampai menggimbali rambut panjannya. Sampai suatu hari ia berada di sebuah pemakaman etnis Tionghoa. Tan tidak tahu menau siapa gerangan orang yang berbaring didalam gundukan tanah didepannya itu. Yang ia tahu, orang itu mencantumkan namanya “Tansen Wuisan” dalam ahli warisnya.
Akhirnya ia dipertemukan dengan pak Hadi oleh pengacara pak Tan Sin Gie. Setelah menyerahkan warisan dari pak Tan Sin Gie. Ternyata yang ada dalam amplop coklat itu adalah sebuah kunci dan secarik kertas bertulis tangan sebuah alamat. Pak Hadi sendiri adalah penunggu bekas toko roti tua dengan dua lantai yang warnanya sudah usam itu, sejak lima tahun terakhir ini. Di ruko itu, Tan dijelaskan panjang lebar tentang apa itu madre. Siapa itu pak Tan Sie Gie, ia adalah kakeknya. Siapa itu neneknya, dan bagaimana sejaran keluarga besarnya. Bagaimana bisa tercipta toko roti, mulai dari awal kesuksesanya sampai pada tahap gulung tikar atau bangkrut.
Tan, hampir tidak percaya dengan perkataan pak Hadi, karena baginya cerita pak Hadi sangat berbeda jauh dengan cerita dari Aki, orang yang merawat Tan sejak kecil. Karena masih bingung dengan semua perubahan hidupnya hari itu, ia menuliskan sesuatu dalam blogsnya yang berisikan keluh kesahnya selama seharian penuh di kota jakarta yang penat itu, “Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Kayak tahu-tahu kecemplung di pasir isap. Makin dalam makin sesak. Hidup saya hari kemarin lebih sderhana. Hari ini hidup saya sangat kompleks. Darah saya mendadak seperempat tionghoa....”( halaman 18). Namun lama kelamaan, dengan kesabaran pak Hadi menjelaskan silsilah keluarganya, Tan sedikit demi sedikit mulai bisa menerima kenyataan hidupnya.
Madre sendiri adalah adonan biang. Hasil perkawinan antara air, tepung dan fungi. Dan ternyata biang itu telah berumur tujuh puluh tahun. “ .... ini kaldu biang bikinan saya. Sudah saya pakai sepuluh tahun. Tiap pagi saya panasken, saya saring, saya bumbui lagi....“ lha rotimu itu biangnya sudah tujuh puluh tahun, ia tertawa. “Kalau dirawat dengan benar, banyak hal didunia ini yang makin tua makin berharga. Makin hidup dan malah makin enak”...”(halaman 20) Keesokan harinya pak Hadi mulai mengajari Tan untuk membuat roti dengan menggunakan adonan biang. Tidak disangka-sangka ternyata, Tan mampu membuat roti dengan rasa yang sempurna dalam sekali percobaan. Padahal pak Hadi saja dulu harus melakukan percobaan selama lima kali untuk membuat roti dengan rasa yang pas dan sempurna. Kebiasaan Tan yang tidak terlupakan selama dua tahun terakhir ini adalah mengisi blog seminggu sekali. Temanya bermacam-macam, mulai dari puisi, artikel, ombak , tato sampai cerita tentang ayah yang antara ada dan tiada. Walaupun isinya tak karuan, namun selalu aja ada yang mapir ke blogsnya. Salah satunya adalah Mei, gadis jakarta kulitnya yang kuning dan berambut pirang.
Mei adalah anak pemilik toko roti Fairy Bread, toko terbesar di kota Bogor. Ia berniat untuk membeli Madre, Seratus juta itu tawaran Mei untuk satu stoples adonan biang, Tan sendiri tidak mau mengelola Tan De Bakker untuk berjaya lagi seperti dulu. Ia berniat untuk menjualnya, dengan alasan tidak memiliki latar belakang sebagai pembuat roti, jangankan membuat roti, memasak saja tidak pernah. Pak Hadi pun sangat kecewa terhadap Tan, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan ada di tangan Tan, karena toko dan Madre itu sudah menjadi hak sepenuhnya untuk Tan. Setelah berfikir cukup lama dan mempertimbangkan antara kelebihan dan serta kekurangan dan keuntungan melepaskan madre dari tangannya. Ia memutuskan untuk membangun kembali Tan De Bakker dengan bekerja sama dengan perusahaan milik Mei yaitu Fairy Bread. Tan di bantu oleh pak Hadi, pak Joko, bu Cory, bu jois dan bu Dedeh. Mereka berlima adalah pegawai kakek Tasen dulu, memang usia mereka tidak muda lagi, tetapi semangatnya tidak kalah dengan yang muda.
Kini Tan De Bakker berjaya kembali di bawah naungan Tansen dan bantuan Mei. Tan memang berbakat menjadi seorang pemimpin toko roti.” .... untung kita sekarang punya Tansen,” kata pak Hadi..” (halaman 54). “... yang dibutuhkan toko ini bukan modal Tansen.” Ujarnya pelan, “ kapanpun kami mau bikin roti, kami bisa. Tapi kami butuh pemimpin. Kami butuh orang yang bisa memperkenalken roti-roti macem kami punya ini ke orang-orang muda macem kamu dan Mei..”( halaman 37). Ia meninggalkan pulau Bali, walaupun terkang ia rindu akan suasana dan gemuruh ombak pantai, namun pantai bukanlah tempat tinggalnya. Kini ia menetap di kota Jakarta, kota yang awalnya sangat dihindari oleh Tan. Dulu ia anti kota Jakarta, dengan segala rutinitas dan seabrek masalah masyarakatnya. Sekarang ia nyaman berfamili dengan adonan roti yang membuatnya menemukan keluarga baru.
Novel yang madre ini dalam penyajiannya sudah cukup baik sebagai bacaan semua umur. Dimulai dari pembukaan cerita sampai penutup cerita sudah baik karena dari satu cerita ke cerita lainnya tidak bertele-tele atau menyambung dan uniknya. Buku ini hadir dengan sejuta pesonanya, berbeda dengan novel-novel yang lain. Buku ini lebih menonjolkan karakter-karakternya, mulai dari perbedaan suku, agama, budaya, kelas sosial, gaya hidup dan lain sebagainya. Buku ini lebih menarik dan memiliki ciri khas dibandingkan novel lainnya. Bukan hanya cerita cinta saja yang menarik untuk dibahas, tetapi ada juga suatu perjuangan, kebersamaan dan kepercayaan ada di dalamnya. Disini kita akan disuguhi suatu kata yang aneh dan belum pernah kita ketahui, seperti Madre ( adonan biang).
Buku ini singkat, tetapi dapat membuat pembaca memahami maksudnya, karena ceritanya yang tidak berbelit-belit atau tidak terlalu bannyak konflik didalamnya. Gaya bahasa yang digunakan mampu dicerna dan dipahami oleh pembacanya dengan baik. Karena tidak ada bahasa alay atau melebih-lebihkan bahasa untuk mendramatisir keadaan. Selain itu ceritanya menarik, yang menceritakan sebuah perjuangan untuk bangkit kembali dalam kehidupan berbisnis dan masih ada yang lainnya. Alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur campuran, awal menggunakan alur maju, tengah alur mundur dan akhir menggunakan alur maju lagi. Sehingga memudahkan pembaca untuk memahami dan berimajinasi.
Penggunaan nama-nama ilmiah yang kadang tidak mampu di pahami oleh orang awam, seperti kumpulan Saccharomyses exigus dan Lactobacillus. Selain itu ada juga kata-katanya ada yang sulit untuk dipahami oleh beberapa pihak, seperti, ”..Dan aku bertanya : apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan, Yang membekukan air mata menjadi kristal garam? Sahabatku menjawab : Waktu ..” (halaman 123). Selain itu, imajinasi pembaca bisa terhambat jika mereka tidaak mampu memahami istilah-istilah tersebut.
Dari novel yang di buat oleh Dee ini, saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang penting, salah satunya tidak pantang menyerah bila menginginkan sesuatu dan tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau untuk berusaha. Seperti tokoh Tan, pak Hadi dan karyawan Tan De Bakker yang umurnya sudah tidak muda lagi, dengan semangatnya mampu berhasil membangkitkan toko roti yang awalnya mati karena gulung tikar. Selain itu ada juga hal kecil yang tidak boleh kita lupakan, bahwa segala sesuatu itu kalau kita perlakukan dengan baik akan mendapatkan hasil yang baik pula, sekalipun itu hanya Madre (sebuah adonan biang). Dan kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan kita kedepannya, bisa jadi hidup kita akan berubah dalam sehari seperti tokoh Tan, kita tidak akan pernah tahu itu, karena semua kehidupan manusia sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan. Semua yang kita kerjakan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar